Hari Anak Nasional 2026, Liza Maria Ajak Anak Indonesia Kembangkan Kreatifitas Video

hari anak nasional 2026 liza maria seavfc festival video anak asean jakartaforum
Liza Maria berharap anak Indonesia Kembangkan aktifitas video dengan mengikuti Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) atau Festival Video Anak ASEAN 
JAKARTA FORUM - Jakarta,  Hari Anak Nasional ke-42 diperingati serentak di seluruh Indonesia pada Kamis, 23 Juli 2026. Salah satu perempuan yang berkiprah pada dunia anak-anak adalah Maria Elizabeth atau akrab disapa Liza Maria.

Lebih dari tiga dekade berkarya di industri penyiaran televisi nasional, ia kini mendedikasikan pengalaman dan kompetensinya untuk mengembangkan kreatifitas anak Indonesia.

"Latar belakang saya memang dunia media televisi. Saya bekerja di SCTV, TV7, Trans7 hingga Rajawali Televisi selama lebih dari 30 tahun. Selama itu pula saya banyak memproduksi program-program berbasis video. Mungkin pengalaman itulah yang menjadi salah satu alasan saya dipercaya menjadi juri,dan memiliki kepedulian terhadap anak-anak," ujar Liza Maria selaku Asisten board of Indonesia di Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) atau Festival Video Anak ASEAN. 

Ia mengatakan pesatnya teknologi digital, maka anak-anak Indonesia memiliki potensi besar menjadi kreator, sutradara, produser, animator, hingga inovator masa depan apabila mendapat ruang, pendampingan, dan akses yang memadai.

Bagi Liza, perkembangan teknologi saat ini menjadi peluang besar bagi generasi muda untuk berkarya. Anak-anak kini memiliki akses terhadap perangkat digital dan mereka bisa belajar memproduksi video, fotografi, menulis naskah, hingga mengedit konten secara mandiri. 

Namun, ia juga mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan pendidikan karakter serta kreativitas yang memiliki nilai positif.

"Anak-anak sekarang luar biasa karena didukung teknologi dan digitalisasi. Yang harus kita lakukan adalah mengarahkan mereka agar menghasilkan karya yang punya nilai positif," kata Liza Maria yang pernah memproduksi sinetron drama musikal anak 'Amalia' mengangkat lagu-lagu AT Mahmud tahun 2003 di RCTI sehingga menyabet penghargaan Sinetron Anak Terpuji pada Festival Film Bandung.

Menurutnya, sebuah karya sederhana berdurasi lima hingga sepuluh menit pun dapat memiliki dampak besar apabila dibangun dari cerita yang kuat, kreativitas yang tinggi, dan pesan yang positif. 

"Jangan sekadar membuat konten untuk viral, tetapi membuat karya yang memiliki pesan, manfaat, dan bisa menjadi kebanggaan," imbuhnya.

Liza Maria kini menjabat Asisten board of Indonesia di Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) atau Festival Video Anak ASEAN. 

Ia telah tiga kali dipercaya sebagai Dewan Juri SEAVFC pada penyelenggaraan Philipines 2018, Malaysia 2024 dan Thailand  2025 

"Kalau cerita mereka bagus, penyajiannya kreatif, dan memiliki nilai, itu bisa menjadi prestasi besar.  Anak-anak tidak hanya menjadi pembuat konten, tetapi juga belajar menjadi storyteller yang mampu membawa nama Indonesia di forum internasional," imbuhnya.

Menurut Praktisi Media sekaligus Pemerhati Program Anak ini bahwa, sebuah karya sederhana berdurasi lima hingga sepuluh menit pun dapat memiliki dampak besar apabila dibangun dari cerita yang kuat, kreativitas yang tinggi, dan pesan yang positif. 

"Melalui festival video anak SEAVFC karya-karya tersebut bahkan berpeluang mewakili Indonesia di tingkat ASEAN," katanya.

Dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026, Liza Maria juga menyampaikan pesan kepada generasi muda agar terus berani mengeksplorasi kemampuan diri. 

Ia menilai pendidikan formal perlu dilengkapi dengan keterampilan kreatif yang akan menjadi bekal menghadapi persaingan global.

"Jangan takut untuk berkreasi. Berani berkembang, berani menyampaikan ide, dan terus mengasah kemampuan. Anak-anak perlu belajar menulis, membuat video, fotografi, editing, hingga bercerita. Semua keterampilan itu akan menjadi modal penting di masa depan," ungkapnya.

Ia menambahkan, keberhasilan membangun generasi kreatif tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Orang tua, pemerintah, media, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan anak perlu berkolaborasi menciptakan ekosistem anak yang mendukung tumbuhnya kreativitas anak.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar perhatian terhadap pengembangan talenta anak tidak hanya berpusat di kota-kota besar karena Indonesia memiliki jutaan anak berbakat yang tersebar hingga pelosok daerah dan mereka membutuhkan  kesempatan yang sama untuk berkembang.

"Indonesia bukan hanya Jakarta atau kota-kota besar. Kita harus melihat anak-anak di kota kecil, daerah pinggiran, hingga Indonesia Timur. Mereka juga memiliki mimpi dan potensi yang luar biasa. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka," ujarnya.

Liza Maria menilai proses menemukan talenta kreatif tidak berbeda dengan mencari atlet berprestasi. Dibutuhkan pembinaan yang berkesinambungan agar lahir generasi yang mampu menjadi sutradara, produser, animator, kreator digital, hingga inovator di berbagai bidang pekerjaan.

Liza berharap semakin banyak talenta muda Indonesia yang lahir melalui ajang Festifal Video Anak Asean tersebut.

"Kalau kita serius membina mereka sejak sekarang, saya yakin akan lahir lebih banyak anak Indonesia yang bukan hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional. Mereka nantinya bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui kreativitas yang mereka miliki," pungkasnya. (Rudi)


     

Related

Nasional 1792231451727713206

Posting Komentar

Twit Terbaru

Total Tayangan Halaman

Follow Us



item